KETIKA YANG DIHARAPKAN MENGINGKARI JANJI

Posted: September 16, 2010 in Uncategorized

KETIKA YANG DIHARAPKAN MENGINGKARI JANJI

Alangkah sakitnya jika harapan yang kita sandarkan kepada dia yang kita cintai, mudahnya ia ingkari, janji yang terukir masih tersimpan dalam ingatan kita. “Aku akan temani hidup mu, aku terima kekuranganmu” Bertahun-tahun kita menjaga cinta ini demi satu titik akhir dari yang kita harapkan, beribu godaan berhasil kita singkirkan, teteasan air mata, keluh dan kesah yang selama ini dapat kita atasi. Namun hanya beberapa menit dengan mudahnya ia melepas semua janji-janji yang dengan sengaja ia ucapkan untuk kita. Belum hilang dengung di telinga, mendengar bisikan manja, masih basah bibir menjawab ikrarnya. secepat halilintar, ia mengkahiri semua harapan yang sudah terucap.

Dunia seakan berhenti berputar, jantung sejenak berhenti berdetup. pikiran merontah tak tahu harus bagaimana. Syaraf terasa lepas dari pekatnya. Oh Tuhan, inikah akhir dari segalanya., inikah final dari apa yang sudah aku jaga, aku rawat dan aku harapkan. Bunga cantik yang akan tumbuh dan ku petik??!! Hari-hari yang kita hadapi begitu sulit kita jalani, di setiap sudut ruangan wajahnya seakan memburu, suara manjanya terasa masih terdengar menyusup di telinga. begitu sensitive-nya hati kita. Tidak sanggup telinga mendengar nyanyian-nyanyian menyayat hati, tak terasa air mata sudah basahi pipi, tak mampu kita menyekat kelopak mata untuk tidak menangis.

Meskipun di tengah penat dan keramaian, hati masih terasa hampa. Ingin rasanya, kita tinggalkan kepala dan hati kita untuk rehat sejenak memikirkan dia. lagi-lagi kita tidak mampu.

Huft… Terasa letih, sesak menghimpit di jantung. nafas tersengkal di rongga leher. terbangun dari tidur adalah satu kerugian, karena hanya tidurlah menjadi senjata untuk tidak memikirkan dia. walau pun bertemu di dalam mimpi, tetapi cukuplah itu hanya sesaat. Bangunlah dari mimpi buruk mu Dan angan yang membius titik jengahmu… Helalah nafas mu dalam-dalam, pejamkan matamu….hadirkan cahaya Tuhan dalam pikiran dan hatimu.

Dia menuntutmu tuk tetap mencintaiNya?!atau dia murkah lantaran nama-Nya kau endap di atas namanya karena terlalu sering bibir menyebut orang yang kita cintai, kita abaikan lisan untuk senantiasa hadirkan AsmaNya yang suci. Ia tidak marah dan murkah. Justru ia menghampiri kita dengan sapa-Nya yang lembut, dengan pelukanNya yang hangat. Mendekatlah, rasakan cinta-Nya di setiap celah waktumu. Menangislah sekencang-kencangnya…. Sampai letih mata dan isakan tangismu, dan menjeritlah, karena tak mampu lagi kita merontah dan menahan kesal. Tanpa kita sadari, tak perlu menjerit, karena Ia medengar bisikkan kita. Basuh air matamu, gantikan dengan air wudhu. resapi di setiap percikannya.

Tenggelamkan pikiranmu, merasa teramat lemahnya diri ini. Ringankan kaki dari kerapuhan langkah dan harapan kosong yang kita alami akan cinta semu yang kita hadapi. tegakan takbiratulihram,…angkat ke dua tanganmu, hempaskan Asma kebesaranNya. karena hanya Dialah sandaran kita.

Sampaikan surat-surat cinta yang hampir lupa kita membaca kalamNya, sebagai pelipur luka. letakan dahimu, di atas keangkuhan kita selama ini yang begitu mudahnya menyerahkan pikiran, waktu dan tenaga untuk dia, yang kini tak lagi bersama kita. akui kesalahan kita, kealpaan yang dengan sengaja kita perbuat. hadapkan hati dan pikiran untuk sang Pecinta. akhirlah dengan salam KEPASRAHAN, serahkan dan tenggelamkan diri dari CINTANYA.

Sudut Kamar, 7 Syawal 1431H EMHA ALBANA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s